Finger Food for Baby

semoga berguna
Dai milis bayi-kita
FINGER FOOD & MOTORIK HALUS SI KECIL

Finger food membuat si kecil bereksplorasi dengan cita rasa. Tak hanya itu, dengan menjumput makanannya sendiri, keterampilan motorik halus bayi juga jadi terlatih.

APA ITU “MAKANAN JEMARI”?

Yang termasuk finger food— istilah yang sering digunakan untuk makanan yang dapat dipegang oleh tangan atau jari-jemari bayi— adalah jenis makanan kudapan atau camilan (snack). Contoh paling umum adalah biskuit khusus bayi yang banyak dijual di pasaran. Namun finger food tak terbatas hanya biskuit. Sayuran, buah-buahan, atau makanan olahan lain yang bisa digenggam bayi juga merupakan makanan jenis ini.

Sesuaikan bahan-bahannya yang memang diperkenan per tahapan usia bayi. Untuk bayi usia 6 bulan, misal, bahan yang disarankan hanya golongan serealia (beras putih, beras merah, havermut), sayuran (kacang hijau, kentang, labu, ubi, mentimun) dan buah-buahan (pisang, avokad, apel dan pir).

Memasuki usia 7-8 bulan, bahan makanan bisa semakin beragam. Seperti sayuran (asparagus, wortel, bayam, brokoli, sawi, kembang kol, bit, lobak), buah-buahan (mangga, peach, mentimun suri), sumber protein (daging ayam, sapi, hati, tahu, tempe). Hindari produk olahan susu (keju, krim, yoghurt) di mas perkenalan awal karena dikhawatirkan dapat menjadi pencetus alergi. Namun, setelah memasuki usia 9 bulan, pemberian bahan makanan produk olahan susu tersebut sudah diperkenankan.

Bahan makanan seperti yang telah disebutkan di atas dapat diolah menjadi aneka ragam finger food. Yang patut diperhatikan adalah teksturnya. Pada tahap awal pemberian (usia bayi 6 bulanan) finger food harus masih bertekstur lembut. Baru ketika usia bayi menginjak 9 bulan, finger food bisa dibuat dengan tekstur lebih kasar. Umpama, dengan membuat makanan olahan dari bahan daging ayam atau sapi cincang (nugert).

Perhatikan juga ukuran. Berikan finger food dalam ukuran yang dapat digenggam oleh tangan mungil bayi. Tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Ukuran camilan yang terlalu kecil dapat membuat bayi tersedak. Sementara potongan yang terlalu besar, malah tidak bisa digenggamnya. Masih berkaitan dengan keamanan, agar tidak membahayakan bayi, beberapa sayuran tertentu, seperti wortel, buncis, labu, asparagus, brokoli, kembang kol, lobak, hendaknya direbus terlebih dahulu agar lebih lunak.

KAPAN DIBERIKAN & NILAI GIZI

Kapan ya waktu yang tepat untuk memberikan finger food? Apakah perlu menunggu hingga gigi geligi bayi tumbuh terlebih dahulu agar ia dapat menggigit camilan itu? Tidak juga kok, Bu. Momen yang tepat untuk memberikan finger food adalah saat si kecil sudah mampu duduk dengan baik (biasanya memasuki usia 6 bulan). Pas di saat si kecil memang sudah membutuhkan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Jadi, tak perlu menunggu hingga gigi bayi tumbuh yang umumnya baru terjadi pada usia bayi 6-8 bulanan.

Sementara untuk jadwal pemberiannya mesti disesuaikan dengan usia si kecil. Untuk bayi 6€  ’¶8 bulan dapat dilakukan sekali sehari. Memasuki usia 9 bulan-1 tahun, dapat lebih ditingkatkan menjadi 2 kali sehari. Perihal waktu pemberiannya dapat dilakukan di antara 2 waktu makan.

Nilai gizi finger food hendaknya tidak melebihi 30% nilai gizi yang harus dipenuhi dalam satu hari. Untuk bayi 6€  ’¶8 bulan nilai gizi finger food per harinya kurang lebih 165 Kalori. Nilai gizi ini kurang lebih setara dengan 1 keping biskuit atau 2 batang wortel yang disiram dengan saus susu (lihat resep menu anak). Pilihan lain, nilai gizi 1 buah pisang ambon ukuran sedang seberat kurang lebih 50 gram memiliki nilai gizi 40 kalori. Sepotong pepaya berukuran sedang seberat 100 gram juga memiliki nilai gizi 40 kalori.

Sedangkan memasuki usia 9€  ’¶12 bulan, nilai gizi yang dianjurkan mencapai kurang lebih 195 kalori per hari. Nilai gizi ini setara dengan 2 buah pan cake buah dan 5 buah jeli sayuran (lihat resep menu anak). Pilihan lain 1 potong keju berukuran sedang dengan berat 30 gram memiliki nilai gizi 110 kalori. Atau, 2 biji bakso berukuran sedang dengan berat kurang lebih 50 gram memiliki nilai gizi 45 Kalori.

Hal lain yang patut mendapat perhatian, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan jangan tinggalkan bayi yang tengah menikmati finger food sendirian saja. Ingat, ia masih dalam tahap belajar makan. Hindari juga finger food berupa kacang, pop corn, atau bahan makanan lain yang berukuran kecil karena dikhawatirkan dapat membuatnya tersedak.

SARAT MANFAAT

Masih penasaran soal manfaat finger food, ini lo beberapa di antaranya:

1. Belajar makan sendiri

Memegang dan memasukkan makanan sendiri ke dalam mulut adalah salah satu cara belajar bagi si kecil untuk makan sendiri. Kelak ini akan menumbuhkan rasa percaya diri bayi bahwa ia mampu melakukan aktivitas makan sendiri, tak perlu disuapi lagi.

2. Memulai makanan padat pertama.

Pemberian finger food juga dapat digolongkan melatih pemberian MPASI. Hanya saja bentuknya lebih khusus yakni yang dapat digenggam oleh tangan si kecil.

3. Merangsang motorik halus si bayi.

Ketika bayi memegang finger food dengan jari jemarinya, dilanjutkan dengan menyorongkannya ke dalam mulut, sebenarnya sudah tergolong memberikan rangsangan untuk perkembangan motorik halus bayi. Khususnya refleks memegang.

4. Merangsang pertumbuhan gigi

Umumnya menjelang tumbuh gigi, bayi akan mengalami rasa gatal di gusi. Pemberian finger food dapat merangsang pertumbuhan gigi, sekaligus mengurangi rasa gatal yang timbul karena umumnya finger food memiliki tekstur.

5. Eksplorasi cita rasa

Pemberian finger food juga dapat dijadikan sebagai media untuk mengenalkan beragam rasa makanan pada bayi. Sehingga kelak anak dapat menyukai beragam makanan dengan beraneka rasa.

SAYUR DULU, BARU BUAH

Beberapa ahli gizi merekomendasikan agar sayuran diperkenalkan pada bayi sebelum buah. Alasannya, buah yang rasanya manis akan membuat sayuran yang kurang manis menjadi tidak menarik untuk bayi. Mulailah dengan sayuran yang rasanya hambar seperti, kentang, kacang hijau, labu dan mentimun. Kemudian, baru perkenalkan buah-buahan seperti pisang, avokad, pir, dan lain-lain.

€  ’³Perkenalan€  ’´ juga mesti bertahap. Dalam arti, satu bahan makanan dulu dalam jangka waktu tertentu, kemudian baru diperkenalkan dengan bahan makanan yang lain. Contoh, sajikan menu kacang hijau selama 4 hari pada si kecil, setelah itu baru memperkenalkannya dengan bahan makanan yang lain.

Source : NAKITA
Utami Sri Rahayu. Foto: Iman Dok. nakita
Narasumber: Hindah Muaris, ahli teknologi pangan yang mendalami kuliner.

Satu Tanggapan

  1. salam kenal. saya ibu baru dari bayi yg baru berusia 6 bulan. bayi saya suka memasukan kedlm mulutnya setiap benda yang dia peroleh.saya takut bayi saya terinfeksi kuman. Namun setiap benda tsb diganti dg yg lain ( dg mksud agar tidak terinfeksi kuman ) bayi saya langsung menangis sekuat2nya.apa yg hrs saya lakukan? mohon diberi arahan.tq b4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: