Tips Mengatasi Baby Blues

Sharing kisah dari rumahpohonku.net

Saya melahirkan anak pertama enam tahun yll, di Iran, hanya dengan didampingi suami, tidak ada ibunda atau sanak saudara. Biaya telpon saat itu masih sangat mahal (sekarang sih, telkom Iran sudah banting harga) sehingga tidak mungkin menelpon berlama-lama untuk sekedar curhat kepada Ibu. Kontrakan kami pun jauh dari orang-orang Indonesia lainnya. Ada teman-teman orang Iran yang menengok sesekali, tapi tentu saja komunikasi tidak bisa terjalin dengan sangat akrab. Singkat kata, dalam ‘kesepian’ itulah, anak pertama kami lahir.

Pasca persalinan, kondisi psikologis saya benar-benar kacau, kondisi yang oleh para psikolog disebut BABY BLUES. Atas saran seorang dosen, kami pun berkonsultasi Baca lebih lanjut