Tips Mengatasi Baby Blues

Sharing kisah dari rumahpohonku.net

Saya melahirkan anak pertama enam tahun yll, di Iran, hanya dengan didampingi suami, tidak ada ibunda atau sanak saudara. Biaya telpon saat itu masih sangat mahal (sekarang sih, telkom Iran sudah banting harga) sehingga tidak mungkin menelpon berlama-lama untuk sekedar curhat kepada Ibu. Kontrakan kami pun jauh dari orang-orang Indonesia lainnya. Ada teman-teman orang Iran yang menengok sesekali, tapi tentu saja komunikasi tidak bisa terjalin dengan sangat akrab. Singkat kata, dalam ‘kesepian’ itulah, anak pertama kami lahir.

Pasca persalinan, kondisi psikologis saya benar-benar kacau, kondisi yang oleh para psikolog disebut BABY BLUES. Atas saran seorang dosen, kami pun berkonsultasi kepada lembaga konseling yang disediakan pihak sekolah. Kebetulan, yang menangani saya adalah langsung kepala lembaga itu, seorang ulama berjubah-bersorban-berjanggut (pada pandangan pertama, saya sempet sentimen loh, ini psikolog apa ustad:D).

Beliau ternyata benar-benar ahli dalam memberikan terapi. Dia merekomendasikan suami saya untuk skip kuliah semester itu supaya dapat mendampingi saya di rumah. Kami pun direkomendasikan untuk jalan-jalan ke luar kota dengan biaya dari pihak sekolah.

Terakhir, karena saya masih sering nangis dan marah-marah, beliau menyuruh dia pulang berlibur ke Indonesia dengan tiket ditanggung sekolah.

Alhamdulillah, ‘badai’ itu sudah berlalu dan Hikmahnya, saya jadi punya “jurus” yang sangat berguna untuk diterapkan dalam ‘melawan’ baby blues setelah persalinan kedua. Nah…. ‘ilmu’ inilah yang ingin saya sharing.

Baby blues adalah perasaan kacau-balau yang melanda ibu yang baru melahirkan (ini definisi ciptaan saya sendiri, hihihi). Konon 80 persen perempuan mengalaminya setelah persalinan. Detik ini senang karena punya bayi, detik berikutnya tiba-tiba sedih dan menangis bercucuran air mata. Susah untuk konsentrasi pada sesuatu, hilang selera makan, susah tidur, kadang bawaannya pengen maraaaah terus.

Saya juga waktu itu gampang panik setiap kali bayi menangis dan kebingungan harus melakukan apa.

Sebenarnya, “jurus-jurus” yang akan saya tulis di sini lebih cocok untuk ibu-ibu yang melahirkan sendirian, jauh dari kampung halaman, dan tidak ada ibunda atau saudara perempuan yang mendampingi (dan inilah ‘nasib’ saya ketika melahirkan kedua anak saya).

Jurus-jurusnya ini sebagian hasil pengalaman sendiri, sebagian lagi saran dari psikolog yang dulu menerapi saya.

Jurus pertama:
Sebelum si bayi lahir, waspadalah dan kenalilah gejala-gejala baby-blues seperti yang saya sudah tulis di atas. Hal ini sangat berguna dalam menghadapi ‘sambaran’ si baby blues.

Misalnya, ketika perasaan kita kacau-balau setelah melahirkan, pengetahuan tentang gejala baby-blues akan membuat kita berpikir, “Oh, ini normal, insya Allah akan hilang seminggu-dua minggu lagi…sabar…sabar…”

Jurus kedua:
Lepaskan saja emosi, gak usah ditahan-tahan. Mau nangis, marah, ya keluarin aja…

Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa:”Aku ini bukan ibu yang baik”.Btw, di sini letak pentingnya pemahaman suami—jadi sebelum melahirkan, perkenalkan apa itu baby-blues pada suami.

Jurus Ketiga:
Usahakan tidur sebanyak mungkin (bahkan kalau ada kesempatan 10 menit pun, gunakan untuk tidur). Namun, supaya si ibu bisa tidur enak, ada hal-hal yang perlu dilakukan:Jangan pedulikan keadaan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, dll. Memikirkan hal itu malah membuat resah dan susah tidur. Yang penting tidur dulu, urusan lain biar nanti diurus.

Buat manajemen pasca kelahiran (sebelum bayi lahir, perkirakan situasinya: misalnya suami harus kerja, anak harus sekolah, lalu buat planning untuk me-manage segala sesuatunya. Dengan cara ini, pasca melahirkan, kondisi rumah akan terkendali.)

Contoh manajemen itu:bikin masakan banyak-banyak, simpan di kulkas, jadi tiap akan makan, tinggal dihangatkan, tidak perlu repot2 masak lagi. beri tahu suami dan si kakak letak barang-barang kebutuhan mereka, sehingga tidak ada kejadian, si ibu tidur, suami teriak, “Maaa…bajuku yang biru itu di mana??” (bisa bubar deh tidur si ibu)

Bila sudah ada si kakak, pikirkan bagaimana caranya agar si kakak tidak mengganggu tidur ibu (misalnya, dititipkan ke tetangga dulu selama ayah sedang di kantor, atau dimasukkan ke play-group). Bila memungkinkan, sewalah asisten (aka pembantu), minimalnya untuk sebulan-dua bulan setelah melahirkan, ini akan menyelesaikan banyak masalah.

Jurus Keempat:
Bikin segar diri sendiri, antara lain dengan cara: Mandi berlama-lama (tentu saja, ketika ada si ayah yang menunggui bayi). Dandan yang cantik (melihat diri di cermin dan menatap penampilan lusuh dan lesu diri sendiri pasca melahirkan sangat mungkin akan menambah stress). Telponlah ibu, kakak, adik, atau teman-teman (jadi, sebelum melahirkan, anggaran telpon yang bakal membengkak pun harus diperhitungkan).

Berbicara dengan orang lain adalah salah satu obat terbaik dalam mengatasi baby-blues. Yang dibicarakan tidak harus melulu tentang bayi, malah lebih bagus lagi tentang hal-hal lain, misalnya tentang sinetron yang sedang ngetop di tivi (:D). Internetan dan chatting (pengalaman saya, setelah melahirkan anak kedua, saya segera online lagi, komunikasi lagi dengan teman-teman di Multiply, chatting hampir tiap hari dengan Neng Satpam tercinta… semua ini saya rasakan sangat membantu dalam menormalkan emosi akibat baby-blues).

Kalau sudah kuat jalan, pergilah jalan-jalan ke taman dekat rumah bersama suami, atau, bila sanggup, jalan-jalan sendiri saja ke mall untuk cuci mata atau shopping untuk diri sendiri (baju baru, sendal baru)

Jurus kelima:
Sadarilah bahwa badai pasti berlalu. Rasa sakit setelah melahirkan pasti akan sembuh, rasa sakit ketika awal-awal memberi ASI pasti akan hilang, teror tangis bayi lambat laun akan berubah menjadi ocehan dan tawa yang menggemaskan, bayi yang “menjengkelkan” (karena nangis dan nyusu mulu) beberapa bulan lagi akan menjadi bayi mungil yang menakjubkan, dll.

Setiap kali merasa susah hati, ingatlah betapa beruntungnya kita karena telah dikaruniai anak oleh Allah. Ucapkan alhamdulillah banyak-banyak, untuk mengingat bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, lelah, dan lain-lain, tidak ada apa-apanya dengan nikmat karunia anak yang sehat dan lucu.

Catatan:
Waspadalah … bila perasaan kacau-balau itu belum juga sembuh setelah lewat tiga minggu, berarti si ibu sudah terkena depresi (istilahnya: post-partum depression). Kondisi ini benar-benar harus diwaspadai.

Apalagi, bila sampai terlintas pikiran-pikiran aneh, seperti perasaan “Aku sepertinya akan melukai diriku sendiri atau bayiku” atau “Aku bukan ibu yang baik” atau “Aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku dengan baik” atau “Lebih baik aku mati saja”.

Dalam kondisi ini, SEGERA minta bantuan dokter atau psikolog. JANGAN dipendam sendirian, bahaya!!!

Kalau depresi si ibu tidak diatasi, banyak masalah yang akan terjadi, antara lain: depresi itu akan menumpuk dan ketika si ibu melahirkan anak berikutnya, dia akan menderita depresi yang lebih parah lagi. Ketika sudah sangat parah (yang ditandai halusinasi, delusi, dan pikiran-pikiran aneh)… dampak ekstrimnya: bunuh diri atau melukai, bahkan membunuh bayi (naudzu billah min dzalik… lindungilah kami ya Allah…).

Sekian. Semoga ada manfaatnya.

jurus-jurus bagi ibu yang melahirkan sendirian, jauh dari kampung halaman

About these ads

33 Tanggapan

  1. NiCe One…

    Not OnLy someOne whO LiveS far ApaRt frOm reLatIves Or ParenTs wHo experienCe tHis…

    BuT soMetiMes other PeopLe wiTh DiFF coNditTion anD baCkGrouNd aLso experienCe This…

    So ThiS PostIng Is reaLLy wOrTh to Read…

    ThaNks for THe PostIng…

    -TiaS-

  2. istri saya juga sempat mengalami baby blues, bahkan lebih parah karena sudah terkena depresi (istilahnya: post-partum depression) hampir 6 bulan.

  3. ooo ternyata maksudnya baby blues itu tho maksudnya .. :) kirain penyakit pada bayi :) thx for the sharing bu

  4. terima kasih atas sharingnya Bu / Mbak… aku juga dua kali mengalami post partum blues, atau baby blues ini, semua kiat mbak/bu ada benernya, dan yang paling penting adalah dukungan suami untuk lebig meluangkan waktu untuk kita. Jujur aja baby blues ini yang membuat saya agak trauma dengan hamil dan melahirkan. Rasanya lebih berat dari melahirkan itu sendiri..hehehe…salam kenal…

  5. terima kasih atas informasinya bu

  6. ok bgt pengalaman para senior ibu2 yg sudah lengkap hidupnya….susahnya kalau suami jg ga ada dalam arti misua harus tugas keluarnegri yg ga mungkin u cuti…istilahnya bener2 single fighter gt with pembokat doang….ada yg pernah ngalamin ga para senior???

  7. wah bagus juga sharingnya.kalau saya juga melahirkan anak pertama di korea,hanya ada suami,tapi Puji ?Tuhan…saya bisa mengatasi baby blues…karena lotto saya,”saya harus bisa”.Sekarang anak saya hidup sehat sudah 1 tahun,biarpun mengalami 4 musim dikorea.

  8. Saya baru saja melahirkan anak kedua(Feb 08). Tp kondisi baby blue yang saya alami tentu jauh berbeda. Karena bayi yang saya lahirkan meninggal. Jadi saya mengalami depresi yang berat sekali. Dan saya tumpahkan dengan menangis dan menangis. Hal ini sangat berat sekali, karena di depan keluarga saya berusaha tegar, sepertinya saya mampu mengatasi semua ini. Tetapi dibalik itu saya diam2 menangis meratapi nasibku ini. Mana tekanan batinku bertambah dengan adanya berita kehamilan teman karibku. Memang ini adalah berita baik, tapi berita yang baik pada timing yang tidak tepat. Dimana saya masih bersedih, tapi temanku ini selalu menceritakan mengenai kehamilannya ini didepanku. Asalkan ketemu ada aja bahan yang diomongin. “Udah berasalah perutnya walaupun cuman jalan sebulan kehamilannya” ,” suaminya selalu membelai perutnya sebelum berangkat kerja and bla…bla….
    Wuiiih mengapa dia nggak bisa merasakan apa yang aku rasakan. Untuk tidak membuat emosiku makin bergejolak, paling saya cuman bisa berusaha menghindar.
    Selain itu banyak sekali yang suka menanyakan ” udah lahiran yah ??? anaknya cowo apa cewe?? Bagaimana saya harus menjawab ??? Bahkan di sekolahan anak saya yang pertama sempat yang menanyakan ” babynya ditinggal yah ???” pengen sekali hatiku ini menjerit ” iya…saya tinggal in di kuburan ” dengan perlahan air mata mulai lagi menetes di pipi ini.
    Kapankah badaiku akan berlalu???Akankah berlalu????

  9. ceritanya menyentuh sekali dan ternyata sy ga sendirian ..1th lalu sya juga seperti itu sampai sy tidak bisa memberi asi hanya 3bulan sj..sy operasi cesar karena pembukaan lama dan air ketuban sya pecah duluan pasca operasi mertua sy sgt2 menganggu kenyamanan hati sy karena sy ga boleh menggendong bayi sy katanya biar ga manja tp hanya dia yg menggendong..

    setiap memberi asi mertua sya mendikte hrus begini hrs begitu dan selalu menatap sy terus sya sampai stres dan akhirnya sya 5bulan cuma menangis ga berhenti2 cengeng dan penakut depresi berat.sampai akhirnya orgtua sya membawa saya kerumah dan sya ditenangkan sementara ..

    benar kalau dlm memberikan asi semua hrs mendukung dan pikiran tenang dan relax sekarang suami sy benar2 merasa bersalah krna waktu itu suami ikut memusuhi sya krna bersitegang dgn ibunya.. stlah mendapat penjelasan dr seorang dokter bhawa memang kondisi ibu yg baru melahirkan itu sgt rapuh barulah dia menyadari kesalahannya dan menebus nya dgn ikut membantu sya merawat de2k tanpa babby siter alhamdulilah ASI mash bisa ttp dikasih walaupun di campur dgn formula.

    sekarang walaupun masih perang dingin dgn mertua sy ga peduli yg penting anak sya saja. lega rasanya bisa shring begini…

    • Kalo Sy mAlah ibu sy sendiri,sy stres,ibu sy sangat kolotan,masa bis melahirkan g blh makan apapun,hanya boleh makan tahu ma tempe tanpa bumbu,anak Sy dapet giZi darimana?selama 40 hari sy sngat tertekAn,mlm g blh makan nasi,asi sy mau ada dari mana?alhamdulilah stelah 40 hour badai berlalu ibuku kerja lg,sy drmh cm ma pembantu nah mulai itu sy makan ApApun yg mau sy makan,wlpun skrg anaku dah 5 bln masih aja ngomel kalo sy makan bakso,ktnya bikin gumoh,g masuk akal ,gumoh kan bukan gr2 makanan yg qta makan amis,tp karena emang adek kekenyangan

  10. mungkin banyak istilah yang digunakan salah satunya baby blues. setelah melahirkan anak pertama juni 2007, semua terasa sangat berubah, bahagia tetapi scr psikologis saya merasa tdk bisa menjadi wanita sempurna karna kalut dengan keadaan, kalut dengan tangis bayi ditambah dengan tidak bisa mengurus suami karena sibuk dengan baby…kurang tidur, sakit saat menyusui dll…
    tapi semua membaik saat saya mengkomunikasikan semua dengan suami, meminta pengertian dan mengajaknya untuk turut serta membantu…

    semua berubah, minggu2 berikutnya terasa begitu indah, aku bahagia sekali…

  11. kalo aku dah kategori depresi nih krn sampe 6 bln, mcm2 deh yg ada dipikiranku merasa sendirian, waktu itu suami kerjanya shift mlm jadi klo plg kermh dianya lgsung tertidur, makanya aku merasa kesepian deh…tapi aku cuma fokuskan ma anak aja, trs msk kerja lagi bisa baca2 blog ibu buat belajar maklum ortu baru dan jauh dari keluarga juga…

  12. aduh…pengalaman nya sama banget,saya juga pindah ikut suami yang kebetulan org jerman…..kita pindah ke berlin karena suami saya di tugaskan oleh perusahaannya sementara keluarga suami ada di köln jadi bener2 sendirian deh…sementara saya berasal dari keluarga besar yang kerjaannya ngumpul terus,jadi berasa banget kesendiriannya…nangs ga berenti2..sedih terus…tapi untung suami saya super sabar ngatasin saya yang super duper nyebelin,kesel deh denger anak sendiri nangis…untung sekarang udah lumayan bgt…anak saya udah 5 bulan sekarang..kesepian sih masih tapi ambil positifnya aja…jalan 2 sendiri ke park..kenalan ama ibu2 lain..udah rasanya mendingan banget…ya mudah2an tambah lama bisa tambah baik ya.

  13. seneng bgt bs sharing… tp mungkin permasalahan saya berbeda. Saya baby blues karena suami tidak memperhatikan saya saat hamil bln ke 5 maupun setelah melahirkan.. pdhl kita hrs menunggu hamil lagi slm 4 tahun, setelah sblmnya sy keguguran. Suami benar2 mendiamkan saya… yg fatalnya saya minta tinggal sementara dirmh orangtua saya selama 2 minggu setelah melahirkan tp tdk diperbolehkan, walaupun akhirnya saya nekat..tp konsekuensinya sy semakin tidak diperhatikan…. saya depresi smp 2,5bln. Intinya suami sama sekali tdk meng support sy. Dan tdk mau cari tau apa itu baby blues…sampai akhirnya saya tdk peduli dgn suami…… Dan hal ini masih terjadi sampai sekarang… walaupun skrg keadaan sdh mulai agak membaik. Tapi puji Tuhan kel saya mengsupport saya… Akibat dari baby blues ini sekarang saya tdk bs memberikan ASI. Karena setiap bayi menyusui ASI, sy hanya bisa menangis……. Mudah2an tidak ada yg kejadian seperti saya yaaa…

  14. Hai..saya baru aja melahirkan 10 hari yang lalu..
    kayanya lagi terserang baby blues nih

    Saya usia masih 22 tahun, sebentar lagi 23 tahun..menikah setahun yang lalu..
    2 bulan menikah,langsung hamil..baru 6 juni kemarin melahirkan

    karena melahirkan operasi, saya dirawat selama 6 hari di RS. selama di RS, rasa cinta kepada bayi sangat besar..
    begitu pulang ke rumah, mulai stress melanda

    Bayi saya beri Asi, karena itu sering sekali pup dan kencing, itu benar2 bikin saya stress. bisa dia bangun jam 12 siang, dan baru tidur lagi jam 1.30 setelah 5 kalo ganti popok dan bedong akibat terus2an kencing dan pup.. saya benar2 merasa diteror..apalagi nangisnya kenceng..
    saya merasa saya sudag tidak punya waktu untuk diri sendiri lagi,,

    bukannya keberatan, tapi saya merasa entah kenapa bayi ini terasa sangat membuat saya tersiksa..

    Saya sadari seharusnya saya penuh syukur karena banyak orang yg mendambakan apa yang saya miliki yaitu suami yg sangat perhatian dan anak bayi yang sehat. tapi entah kenapa susah bagi saya untuk mencintai bayi saya apalagi saat dia rewe.

    apa yang harus saya lakukan? saya sangat ingin mencintai anak saya..saya ingin punya kedekatan batin dengan dia…..

  15. Saya ternyata tdk mengalami baby blues walau 2 anak saya lahir di kota dimana tidak ada sanak saudara. Tapi beruntung suami saya selalu membantu saya mengurus rumahtangga shg saya tidak terbebani terlalu banyak. Kalau gejala ini tdk direspon dg baik memang akan depresi bahkan ada yg sampai membunuh bayinya sndr tanpa sebab.

  16. baby blues menyerang saya pd kelahiran anak ke 2 (mei 2010 lalu). anak pertama tdk ada mslh. mengurus anak ke 2 ini rasanya lebih berat drpd anak pertama. asi bmasalah, tdrnya tdk pernah lama, cengeng (ngeliat anak ptama lbh dekat dgn mbaknya bs bikin nangis) rasanya badan capek luar biasa. stlh saya pikir2 mgkn saya tlalu cpt ambil cuti (1 bln di awal) jadi parno akan ninggalin si baby umur 2 bln, apa bisa? solusinya ya balik lg ke anak, ngeliat baby tumbuh sehat itu obat yg plg mujarab.

  17. Wah, makasih utk sharingnya. Merasa tdk sendirian n terlalu bersalah pernah punya perasaan kesel slm ngerawat si dede. Sy jg baru melahirkan hampir 1 bulan ini. Dulu aktu hamil 4bln, suami dinas di luar negri, ak tinggal sendirian dikontrakan sambil kerja n kdg ke lapangan ngerjain proyek. Krn dah g tahan sendirian, ak ambil cuti lbh awal 1 bln dr HPL pulang kerumah ortu dibdg, g peduli ibu2 dikantor mo ngomong apa. Ternyt bener, aku ngelahirin 2 mg lbh awal krn mgkn trlalu kecapean. Pas lahiran, suami lg dikota lain, jd yang nemenin ibu aj..seneng ngeliat dede lahir normal walopun trauma ngelahirin msh kebayang akibat perut kebanyakan diobok2 suster. Tp ternyt br 2 hr plg, sidede bilirubinnya naik jd harus diopname 2 hari. udah gt keluarga mertua dtg dr jawa nginep, ngasi wejangan macem2 malah bikin stres. Asi blm keluar lancar n sakit ngelupas, tp ko suami terkesan maksa ngasi asi trs, jd baru nyusuin di rs plg kermh hrs sgr mompa lagi pdhl blm makan apa2. Cape bgt saat itu, jad hiteris sndiri, nangis puaspuasin dikamar.skrng ngurus si dede sendirian di rumah ortu, krn uami hrs balik kerja diluar daerah lg. Krn kurg tdr n anemia, terkena pendarahan, kadang suka stress apalagi klo sidede nangis n keluarga nyalahin ak trs krn pola makanku. Aku ga tau apakah ini baby blues ato bkn, yg jelas suka hopeless gt n nangis2 sendiri klo dah kecapean. Kadang jd pengen nyalahin suami krn ga ad saat hamil, ngelahirin dan ngrus dede….smg ga berlangsung trs ya…

  18. Keep Effort, para Mom ..

  19. thx bt tips nya..kykny lg kena nih..dtambah blm bs kasih byk asi jd msti tambah susu formula,kepikiran aneh2 jg krn baby vakum..suami kerja dluar pulau,jd mmg jarang nungguin &ibu+ibu mertua jg kerja dluar kota..lengkap bnr2 sdrn…tp smg ga berkepanjangan..Allah..Allah..Allah…sdh byk beri nikmat luar biasa..

  20. aku jg ngalamin baby blues, lahiran anak 1, suami kerja d luar kota. Drmh sama ibu mertua n ipar dan semuanya cwo.
    ♏ªυ ‎​​ apa2 repot sama sekali, ibu mertua terkesan tdk perduli sama anakku.
    Stress, sedih jd 1. Frustasi n depresi, tp pd akhirnya aku berpikir lg semua pasti berlalu.

  21. Ass’….sy berterima ksh bgt ya mbak.skrg sy bisa lega stlh baca syering mbak.setidaknya sy ada pandangan buat ngasih solusi buat istri saya.jjur saat ini kurang lebh sdh 3 bln istri sy mengalami seperti yg mbak tulis.semua benar…..sy sampai bingung apa lg yg harus sy lakukan….sekali lagi sy ucapkan terima ksh….dan minta do’anya buat temen2 yg baca smga istri saya cpt shat dan pulih normal seperti sebelumnya yg sll banyak canda…..wassalam.

  22. Asslmkm…
    aku juga barusan punya anak ke 2. cewek, umur 2 bulan lebih sedikit. anak pertama (sekarang umur 6 tahun) gak ada masalah. anak yang kedua ini.. Ya Alloh, aku mengalami hal semacam itu. Pikiran gak karu-karuan. dada terasa sesak, menjadi agak pelupa. Yang paling menyesakkan adalah muncul pikiran2 aneh dan ketakutan. Aku dah berusaha menghilangkannya, namun susah. kadang hilang, tapi muncul lagi. Apalagi nifasku lama. Aku melahirkan dengan operasi Cs. Dulu aku tidak kenal dengan istilah Baby Blues. tapi dengan kegelisahan yang begitu hebat, aku berusaha menengakan diri dengan buka2 situs “Pasca Melahirkan” (cos saat itu masih nifas). baru aku agak tenang setelah menemukan artikel tentang trauma pasca melahirkan.
    Tapi sampai saat ini aku masih merasakan kegelisahan dan ketakutan itu. Padahal aku dah dibantu seorang pembantu untuk siang harinya. Aku berusaha menenangkannya dengan banyak berdo’a, mengaji n sholat hajat. Tapi gejala tersebut belum juga hilang, ya walau agak berkurang. Bagaimana ya mengatasinya??? Please, help me. Thx
    Wasslkm…..

  23. smga ak nti tak akn pernah mengalami baby blue ini :)
    amin

  24. Ass… saya juga merasakan hal yang sama, yang anehnya saya baby blues bukan waktu bayi saya baru lahir, tp setelah 2 bln, soalnya waktu lahiran ada mertua yg ngurus sampai hampir 2 bln, setelah mertua sya pulang, sya merasa keteran bgt, mana ngurus bayi, ngurus rumah, cucian, masak, ngurus ayahnya, duh saya strez bgt rasanyaaa, mana usami tidak mau mengerti apa perasaan sya, sya suntuk, stres kerjaan gx beres2, sedangkan kalau sya minta bantuan suami dia malah marah2 sama saya, padahal saya juga pengen menghirup udara segar di luar sana, saya juga pengen shoping, pengen dandan yang cantik… tp dia gx ngertikan saya… sya jadi stres bgt rasanya….

  25. thanks mba. artikelny sangat membantu, kbtulan istri br lahirkn anak prtama kami, gejala2nya sudah muncul tuh.. jd minimal sudah tahu dan hrus ngapain..

    • Thanks atas sharingnya, hal yg lebih kurang sama aku rasakan, dgn mendengar bahwa ada yg lebih berat keadaannya, aku harus lebih bersyukur.Harus Lebih kuat dlm merawat bayiku yg usianya 1 bln 1 minggu, berjuang memberi asi x yg kurang didukung keluarga, dsa nya, alasannya BB nya kurang.jadi kl bayinya rewel suka sedih, krn takut sama suami bakalan ngasi sufor dan bilang asinya kurang..

  26. assalamualaikum…
    teh, tanggal 10 september lalu saya melahirkan.. tapi sampai sekarang rasa trauma nya belum berkurang… apalagi sekarang gejala ‘baby blues’ yg dialami nie belum hilang… rasanya nie ingin nangis terus… apa nie harus bilang sama suami atau tidak usah?? terima kasih sebelumnya… teh, untuk jawabannya teteh keberatan tidak apabila di kirim ke no hp 082129346611…

  27. Kalo Aku lain lagi, baby ku Dah 5 bln, tiba2 Aku Kena babyblues ini, ngga tau knapa, Aku bawa ngaji terus, sholat terus, dzikir terus….lumayan…..semangat moms, syukuri semuanya Aja ….

    • Biasanya juga gitu dibuat ngaji, sholat, dzikir jadi tenang ayem….tapi sekarang g bisa…semua harus serba patas…

  28. makasih atas tips nya,,smoga sy bisa keluar dr rasa ini
    saya mengalami hal ini,tp bukan krn tidak ada ortu dirumah,,malah krn tinggal sama ortu makanua sy jd kacau,,
    ini kelahiran anak ke2ku,harusnya sy tenang” dan gembira krn sudah engkap cowok-cewek,tp ini malah sebaliknya,,semua bertumpu ke saya,urusan rumah,warungnya ibu,,putriku,,
    semuanya serba saya,,sampe” ngak.sempet buat makan,
    kadang ibu membantu urusan nyuci baju,tp hbs itu ngedumel terus,rumah berantakan,anak pertama sakit,babyku kalau ditaruh apa nenen nya dilepas pasti nangis,,ditambah PD sy lecet sampe berdarah”,,jd puyeng sy,jadinya cuman pingin marah” terus,,tp ibu ngak peduli,malah nyalahin sy,kalau baby nangis dia marah,perasaan dirumah ini ngak ada yg peduli sm.sy,,capek badan dan hati,kadang” malah putri dan putraku yg bayi kena marahku,,
    hahhh,,,bingung sy,darimana harus menata hati ini

  29. saya melahirkan seorang putra Nopember tahun 2012. awalnya saya merasa bisa mengatasi masalah baby blues ini tapi sekarang ini ketika bayiku sudah 4 bulan rasanya pingin marah terus. masalahnya saya dan suami sama-sama bekerja dan saya diakhir semester (skirpsi). rasanya pingin marah terus karena tidak bisa mengerjakan semuanya secara maksimal. semua prioritas.udah capek badan juga capek hati. Alhamdulillah urusan si kecil tidak terganggu tapi urusan kantor sama urusan skripsi juga urusan rumah kacao balao. pusing jadinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: